|
|
Bahasa dan tanggung-jawab

Broertjes
(Taal en verantwoordelijkheid)
door Andy Panca Prasetya, Universiteit van Indonesië, Faculteit van Letteren, Indonesië Departement
Language is a guide to 'social reality' (Edward Sapir)
Penyampaian bahasa oleh seorang penutur, tentunya mengharapkan apa-apa yang disampaikan ini dimengerti dan dipahami oleh lawan bicaranya. Melalui bahasa, setiap individu dapat menyampaikan informasi, berinteraksi, dan bekerja-sama dengan yang lainnya. Bahasa memang selalu berkembang dan mengembangkan zamannya.
Peranan bahasa di segala sisi kehidupan manusia tidak terlepas dari hak dan kewajiban rights and obligations si penutur itu sendiri terhadap bahasa yang dipakainya. Setiap orang tidaklah mungkin semena-mena memakai bahasa, seperti kata-kata 'kotor' di hadapan atau tempat umum. Secara umum, pemakaian bahasa tidak terlepas dari participant, seting, dan topic.
Fleksibel
Unsur participant menyangkut siapa saja yang bertutur. Dalam hal ini, kita tidak mungkin memakai bahasa pergaulan 'slang' terhadap orang yang lebih tua atau dihormati. Seting mencakup situasi dan lokasi yang dipergunakan ketika suasana percakapan sedang berlangsung. Percakapan yang dilakukan ketika seminar tentunya berbeda dengan percakapan yang dilakukan di kantin sambil makan siang. Adapun topic mencakup tema atau masalah yang sedang dibicarakan.
Namun, unsur-unsur bahasa yang lain terutama menyangkut fungsi sosial bahasa sebagai rasa solidaritas, pertemanan, dan kekuasaan telah seringkali mengubah 'memperalat' bahasa tidak sebagaimana mestinya. Bahasa telah sering dijadikan alat komunikasi yang telah menipu orang lain (hal ini sering dilakukan oleh para penguasa guna menutupi peristiwa sebenamya ataupun melakukan sensor yang keras dalam berbagai bidang atau sisi kehidupan masyarakatnya).
Setiap orang memang berhak memakai bahasa dengan segala keleluasaannya asalkan tidak terlepas dari tanggung jawab yang juga harus diembannya. Hubungan bahasa dengan masyarakat memang seharusnya bersifat sederhana dan lentur 'fleksibel' tetapi tetap menhargai makna bahasa itu sendiri sebagai tuturan yang baik.
|
|